««•»»
•[AYAT 1]•[AYAT 3]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of30
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=89&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#89:2
Surah Al Fajr 2
وَلَيالٍ عَشرٍ
««•»»
walayaalin 'asyrin
««•»»
Dan malam yang sepuluh {1573},
by the ten nights,
«•»»
Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah dengan fajar, sesudah fajar yaitu waktu munculnya cahaya yang mengakhiri malam dan dimuiainya siang, pada saat terdapat beberapa keadaan, seperti manusia, binatang, dan burung-burung bersiap-siap untuk mencari rezeki yang akan dikaruniakan Allah kepada mereka. Malam yang sepuluh ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadan dan ada yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharam termasuk di dalamnya hari Asyura, ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama pada bulan Zulhijah.
Bahwa nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya pada hamba-Nya terjadi dengan melalui perubahan siang dan malam yang genap dan ganjil serta perubahan musim, yang dengan perubahan tersebut terdapat kemanfaatan yang tak terhingga.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
“Demi malam yang sepuluh.”
Menurut suatu riwayat daripada Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud dengan malam yang sepuluh ialah sejak satu haribulan Dzul Hijjah sampai 10 hari bulannya. Karena sejak tanggal 1 itu adalah persiapan buat mengerjakan haji. Hari kedelapan ialah tarwiyah, persiapan berangkat ke Arafah. Hari kesembilan ialah hari wuquf, yaitu berhenti di padang Arafah, yang menjadi pusat inti dari amalan haji itu. Dan setelah selesai wuquf, turun lagi ke Mina, dengan singgah dulu ke Muzdalifah berhenti sebentar memilih batu buat melontar Jumrah di Mina itu. Selesai melontar Jumratul-‘Aqabah di pagi hari kesepuluh di Mina itu, dinamailah hari kesepuluh itu Yaumun-Nahry hari menyembelih kurban. Dengan demikian pekerjaan haji yang penting telah selesai dikerjakan. Sehingga pada hari itu juga dapat diselesaikan sekaligus Thawaf Ifadhah dan Sa’I, sehingga selesai seluruh rukun dan syarat dan wajib haji sehari itu juga.
Pendapat Ibnu Abbas ini dikuatkan oleh sebuah Hadis:
“Daripada Ibnu Abbas, bersabda Nabi SAW: “Tidak ada hari-hari beramal yang shalih yang lebih disukai oleh Allah padanya, melebihi hari ini yaitu 10 Dzul Hijjah.”
Tetapi ada juga tafsiran tentang “Malam yang sepuluh” itu. Ibnu Jarir menerangkan dalam tafsirnya ialah 10 haribulan Muharram. Dan sebuah tafsir lagi dari Ar-Razi, ialah 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, karena Nabi SAW lebih tekun beribadat di malam 10 yang terakhir dari Ramadhan itu, di seluruh malamnya beliau lebih banyak bangun dan dibangunkannya pula kaum keluarganya.
Dan ada pula riwayat yang mengatakan “Malam yang sepuluh” ialah lima malam di awal bulan dan lima malam di akhir bulan karena di malam-malam begitu lebih banyak gelap malamnya dari terangnya, karena bulan masih kecil.
Tafsir-tafsir ini boleh dipakai dan dikenal semua; karena rahasia yang sebenarnya adalah pada Yang Empunya Firman sendiri; Allah.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan malam yang sepuluh) maksudnya tanggal sepuluh bulan Zulhijah.
««•»»
and [by] the ten nights, the [first] ten nights of Dhū’l-Hijja,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»وَلَيالٍ عَشرٍ
««•»»
walayaalin 'asyrin
««•»»
Dan malam yang sepuluh {1573},
{1573} Malam yang sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan
Ramadhan. dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan
Muharram Termasuk di dalamnya hari Asyura. ada pula yang mengatakan
bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama bulan Zulhijjah.
««•»»by the ten nights,
«•»»
Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah dengan fajar, sesudah fajar yaitu waktu munculnya cahaya yang mengakhiri malam dan dimuiainya siang, pada saat terdapat beberapa keadaan, seperti manusia, binatang, dan burung-burung bersiap-siap untuk mencari rezeki yang akan dikaruniakan Allah kepada mereka. Malam yang sepuluh ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadan dan ada yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharam termasuk di dalamnya hari Asyura, ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama pada bulan Zulhijah.
Bahwa nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya pada hamba-Nya terjadi dengan melalui perubahan siang dan malam yang genap dan ganjil serta perubahan musim, yang dengan perubahan tersebut terdapat kemanfaatan yang tak terhingga.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
“Demi malam yang sepuluh.”
Menurut suatu riwayat daripada Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud dengan malam yang sepuluh ialah sejak satu haribulan Dzul Hijjah sampai 10 hari bulannya. Karena sejak tanggal 1 itu adalah persiapan buat mengerjakan haji. Hari kedelapan ialah tarwiyah, persiapan berangkat ke Arafah. Hari kesembilan ialah hari wuquf, yaitu berhenti di padang Arafah, yang menjadi pusat inti dari amalan haji itu. Dan setelah selesai wuquf, turun lagi ke Mina, dengan singgah dulu ke Muzdalifah berhenti sebentar memilih batu buat melontar Jumrah di Mina itu. Selesai melontar Jumratul-‘Aqabah di pagi hari kesepuluh di Mina itu, dinamailah hari kesepuluh itu Yaumun-Nahry hari menyembelih kurban. Dengan demikian pekerjaan haji yang penting telah selesai dikerjakan. Sehingga pada hari itu juga dapat diselesaikan sekaligus Thawaf Ifadhah dan Sa’I, sehingga selesai seluruh rukun dan syarat dan wajib haji sehari itu juga.
Pendapat Ibnu Abbas ini dikuatkan oleh sebuah Hadis:
“Daripada Ibnu Abbas, bersabda Nabi SAW: “Tidak ada hari-hari beramal yang shalih yang lebih disukai oleh Allah padanya, melebihi hari ini yaitu 10 Dzul Hijjah.”
Tetapi ada juga tafsiran tentang “Malam yang sepuluh” itu. Ibnu Jarir menerangkan dalam tafsirnya ialah 10 haribulan Muharram. Dan sebuah tafsir lagi dari Ar-Razi, ialah 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, karena Nabi SAW lebih tekun beribadat di malam 10 yang terakhir dari Ramadhan itu, di seluruh malamnya beliau lebih banyak bangun dan dibangunkannya pula kaum keluarganya.
Dan ada pula riwayat yang mengatakan “Malam yang sepuluh” ialah lima malam di awal bulan dan lima malam di akhir bulan karena di malam-malam begitu lebih banyak gelap malamnya dari terangnya, karena bulan masih kecil.
Tafsir-tafsir ini boleh dipakai dan dikenal semua; karena rahasia yang sebenarnya adalah pada Yang Empunya Firman sendiri; Allah.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Dan malam yang sepuluh) maksudnya tanggal sepuluh bulan Zulhijah.
««•»»
and [by] the ten nights, the [first] ten nights of Dhū’l-Hijja,
•[AYAT 1]•[AYAT 3]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of30
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=89&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#89:2


Tidak ada komentar:
Posting Komentar